DIKEJAR-KEJAR

by - January 17, 2017

Kosong. Semuanya kosong. Tak tersisa apapun di meja makan ketika dia datang. Padahal seharusnya dari awal mula semuanya sudah harus ada di sana dan tertara rapi. 
Tapi dia tidak melihat apa-apa. Sungguh aneh!

Tadi malam aku bermimpi aneh. Aku dikejar-kejar oleh beberapa orang karena aku berpacaran dengan seseorang. Aku menaiki angkutan umum, namun ketika aku hendak membayar, si pengemudi melihat wajahku dan berseru, "Kau!" Begitu katanya dengan mata melotot lantaran terkejut. "Kau kan yang ada di mana-mana. Sini aku harus menangkapmu."
Tapi begitu dia mengancamku begitu, aku berlari secepat yang kubisa. Saat itu hujan deras tapi aku tidak memperdulikan diriku yang akan langsung sakit karena kehujanan. Pokoknya aku berlari dan berlari sampai aku merasa lelah dan aku memutuskan untuk berjalan.
Hujan masih turun deras dan tanah berubah jadi berlumpur. Bajuku dan rambutku basah kuyup. Aku kehilangan tenaga. Aku tidak habis pikir mengapa semua orang rasanya ingin menangkapku hanya karena aku berpacaran dengan seseorang? Memangnya aku salah apa?
Sebuah motor laki-laki tiba-tiba berhenti di sampingku. Tanpa berkata apa-apa aku tahu siapa yang datang. Apabila dulu seorang putri dijemput dengan kuda putih oleh pangerannya, maka sekarang sebuah motor semacam ninja yang menjemputku.
Aku segera naik ke bangku penumpang dan motor melaju cepat membelah hujan. Angin dan air hujan menampar pipiku dengan sangat keras. Kugenggam tubuh si pengemudi seolah-olah sesuatu dapat dengan mudah menarikku darinya.
Kami melaju sangat cepat. Aku melihat angkutan yang tadi kunaiki masih berhenti di tempat dan dikelilingi beberapa orang yang sepertinya mendengar cerita tentang menemukanku. Saat motor kami melewati mereka, bapak angkutan umum itu berseru lantang, "Hei itu, gadis yang berjaket kuning adalah gadis yang dicari-cari."
Seorang pria yang duduk di motornya berkata, "Baiklah akan kukejar." Lalu menoleh ke seorang gadis berambut pendek dan berkata, "Ayo kita kejar dia."
Aku melihat mereka dan sempat menangkap pembicaraan mereka. Aku segera berbalik dan berkata pada pengemudiku, "Ke mana kita akan pergi? Mereka mengejarku." Semakin kueratkan genggamanku pada tubuhnya dan aku menempelkan pipiku ke punggungnya yang kuat. "Aku takut."
Kami melaju semakin cepat tapi orang yang membuntuti kami juga mengejar kami tidak kalah cepat. Kami menelusuri jalan kecil di pinggir sungai hingga berujung di jalan raya. Kemudian kami berhenti.
"Mengapa kita berhenti?" Protesku. "Mereka bisa mengejarku. Mereka akan membunuhku."
"Aku harus pergi." Si pengemudi tersebut akhirnya berbicara setelah pertemuan kami.
"Apa? Mengapa? Kapan kau akan kembali? Tapi…kau akan meninggalkanku kalau begitu?" adalah pertanyaan-pertanyaan yang otomatis keluar dari mulutku. Tapi pengemudi itu hanya diam saja. Ia bergeming sama sekali. Tatapannya tertuju pada motornya. Helmnya telah dilepas dari kepalanya membuat rambutnya bermandikan tetesan air hujan yang masih saja turun deras. Mengapa dia begitu pendiam seperti ini. Rasanya aneh. Tidak pernah aku merasakan kebekuan sedingin ini saat bersamanya.
Kemudian pengejar itu datang. Si pengemudi menghentikan motornya di depan motor pengemudiku. Si gadis segera turun dan berdiri dalam posisi pukul 12. Dengan kayu di tangannya, kedua matanya melotot tajam ke arahku. "Aku akan membunuhmu. Aku akan melemparkan kayu ini dan mengenai lehermu. Kau akan langsung mati."
"Kau takkan bisa." Balasku yang masih bergeming di tempat. Berlari pun tidak ada gunanya.
Gadis itu langsung melemparkan kayunya dan aku mampu menangkisnya dengan mudah. Dia kaget karena aku mampu menghindar. Aku melihat ada sungai di belakangku. Akan kulemparkan kayu ini ke sana. Tapi rupanya gadis itu juga menyadari pikiranku. Dia segera berlari menghadangku agar tidak bisa melemparkan kayu itu ke arah sungai.
Dan saat itulah ada suara yang mengagetkanku.
"Kak jadi sahur gak?"
Mimpiku berakhir. Sekonyong-konyong aku bangun dengan kedua mata masih berkunang-kunang dan berjalan dengan setengah mata tertutup, dan masih meninggalkan setengah jiwaku di alam mimpi.

22 Agustus 2016, 9:02 pm


You May Also Like

0 comments