Sebuah Ingatan

by - March 22, 2017

Mimpi lucid-ku tidak selalu bagus. Aku lebih sering bermimpi dan mengingat mimpi buruk sampai terkadang aku berharap aku tidak perlu mengingatnya sama sekali. Sekali aku mendapatkan mimpi yang bagus, aku biasanya langsung rakus ingin menikmati setiap detik yang terlewati sampai aku sadar kalau aku itu sedang bermimpi dan ketika aku menginginkan kelanjutan ceritanya, mimpi tersebut malah berakhir. 

Aku mendapat mimpi ini minggu lalu tepat di Minggu pagi sebelum terbangun karena Mama membangunkanku. Aku suka sekali dengan mimpi ini. Ini adalah mimpi tentang teman-teman SMP-ku. Teman-teman yang baik-baik dan aku sangat menyukai mereka. 

Entah sedang dalam momen apa, tapi hari itu anak-anak mengenakan pakaian bebas. Pakaian mereka terlihat rapi-rapi. Beberapa malah menggunakan rok. Nyaris tidak ada yang menggunakan material bawahan jins, kecuali para cowoknya, yah hanya beberapa--di mimpiku, hanya tiga cowok yang aku lihat. Cewek-ceweknya mengenakan pakaian berbahan sifon. Aku sendiri mengenakan rok polkadot dan atasan bunga-bunga.

Kami sedang sibuk belajar di kelas. Tipikal kelas di SMP-ku adalah semua muridnya pasti sibuk mengerjakan tugas dari guru. Kami sedang belajar Bahasa Indonesia saat itu. Kami diberikan potongan berita dan kami disuruh menjawab beberapa pertanyaan terkait berita yang kami terima. Setiap orang mendapatkan berita yang berbeda-beda.

Sebenarnya ini agak kurang pas kalau kita menyebutnya ruang kelas. Kelas ini tidak terlalu luas dan besar. Duduk kami pun tidak teratur, bisa di mana saja. Untuk menulis kami disediakan meja lipat. Lagipula ini hanyalah mimpi, ruang kelas yang aneh seperti ini mungkin hanya ada di dalam mimpi.

Aku duduk sendirian dengan meja lipatku dan membaca beritaku. Tak jauh dari tempatku ternyata ada dia. Seseorang yang aku sukai di kelasku. Dia sedang duduk-duduk bersama tiga teman lainnya. Tak perlu aku sebutkan siapa mereka karena akan membuka kedok. Sepertinya mereka sudah selesai mengerjakan tugas karena yang mereka lakukan saat itu hanya berbincang-bincang.

Ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku sempat melirik ke arah mereka dan aku mendapati kalau dia sedang memegang dompet ungu yang saat ini kumiliki dan memainkan dompetku perlahan, seperti melempar rendah ke udara dan menangkapnya lagi. Kebiasaan ini persis seperti yang biasa dia lakukan dulu. Dan aku sangat senang karena yang dia mainkan adalah barangku. Aku tidak menampilkan senyumanku di wajahku terang-terang tapi hatiku benar-benar menggelembung besar sampai rasanya mau terbang!

Mereka terus bercerita hingga sampai di satu topik perbincangan tentang cewek. Aku sudah agak lupa bagaimana detail ceritanya karena mimpi ini terjadi sekitar empat minggu lalu dan aku tidak langsung mencatat mimpi ini di catatanku. Aku yakin sekali saat itu salah satu dari mereka bertanya padanya tipe cewek seperti apa yang diinginkannya dan aku bersumpah aku mendengar dia menyebut namaku.

Sontak aku langsung menoleh pada mereka dan bertanya polos, "Ada apa memanggil namaku?" dan bisa kuperhatikan kalau dia mendadak menjadi kikuk dan muncul semburat merah di kedua pipinya. Dia juga tersenyum malu-malu dan teman yang tadi bertanya padanya langsung saja balik bertanya padaku tentang hal lain, mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia bertanya tentang warna kesukaanku. Aku jawab itu ungu. Lalu dia jawab, "Yah, ungu warna yang bagus dan kalem. Sama seperti biru, ya, kan?" Kata temannya sambil menoleh padanya untuk meminta persetujuan. Dia yang masih kikuk hanya menjawab pendek 'iya' sembari mengangguk.

Kemudian salah satu temannya lagi yang berkacamata mengajakku berbicara dan memberikan ilustrasi tentang awan-awan di papan tulis yang kebetulan berada dekat di depanku. Seketika aku melupakan topik yang tadi mereka bicarakan dan tenggelam dalam penjelasan temanku yang berkacamata ini sampai tiba-tiba aku terbangun.

Dan mimpi itu berlalu begitu saja. Seolah-olah ingatan tentangnya juga hanyalah sebuah persinggahan sementara. 

You May Also Like

0 comments