KARMA

by - June 30, 2014



Semua ini berawal dari sebuah kesalahpahaman antara Lindsay dan Dakota yang menyebabkan pacar Dakota naik darah dan mulai memaki-maki Lindsay dengan rentetan kata-kata kotor. Tak ketinggalan pula sumpah serapah tak jelas yang berisi kalau hidup Lindsay tidak bakal bisa  tenang. Lindsay sendiri hanya bisa mengelus dada dan berusaha untuk tidak terlalu ambil pusing.

Walau begitu, teman-teman Lindsay selalu membantu dan terus mendukungnya, agar ia tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Hey, you only live once, make it worth it.

Sementara Lindsay dikelilingi oleh teman-temannya sambil tertawa senang, ada sepasang kekasih yang duduk di pojok ruangan kelas. Sang cewek tampak menangis tersedu-sedu sedangkan sang cowok terlihat sedang meremukkan gelas teh poci dengan penuh emosi dan tatapan matanya dipenuhi emosi yang sudah tak tertahankan lagi karena memandangi gerombolan cewek yang sibuk bergurau dan tak memedulikan seorang cewek yang menangis. Dasar tidak punya rasa kasihan sama sekali, pikirnya. Mendadak telinganya terasa panas dan dia bergumam tak jelas. Tampaknya itu terdengar seperti, “Awas! Lihat saja bagaimana nasib kamu nanti di Bali.” yang bebarengan dengan pecahnya gelas teh poci.

Aku hanya bisa memandangi tingkah laku temanku ini dengan menggeleng-gelengkan kepala. Tidak seharusnya dia membesar-besarkan ini. Toh, itu cuma salah paham antar cewek-cewek labil yang masih belum dewasa. Bukankah itu kita? Remaja labil.

Roy masih saja terlihat emosi memeloti gerombolan cewek sok narsis di seberang meja yang letaknya lima meter darinya. Aku berjalan menghampirinya dan menepuk pundaknya lembut. “Woy, sudah. Gak usah diambil pusing, bro.”

“Gak bisa, bro!” Kata Roy dengan suara tinggi. “Kamu tahu sendiri kan aku itu gak bisa woles orangnya.”
Ya, tapi ini kan masalah cewek.” Kataku menenangkan. “Udahlah kita para cowok gak usah ikut campur.”
Roy berhenti menatap gerombolan para cewek dan mulai menatapku dengan tajam. “Jadi kamu belain mereka?” Matanya melotot besar banget ke arahku. Sampai-sampai aku takut matanya bakal melompat keluar mengenai mukaku. Aku jadi harus mundur selangkah. “Sana,” Roy menunjuk tangannya ke arah para cewek. “Sana pergi! Jangan deket-deket aku lagi kalau kamu tetep aja belain mereka.”

Hash, apa pun yang kita katakan memang akan terlihat salah kalau sedang berhadapan dengan orang yang sedang marah. “Ya, udah terserah.” Kataku pada akhirnya sembari beranjak pergi. “Aku gak ikut-ikut kalau kamu kena masalah.”

***

Pada akhirnya kami semua pergi ke Bali. Tujuan utamanya memang untuk bersenang-senang, tapi Roy punya satu tujuan lain—

—yaitu mencelakai Lindsay.

Bis sudah mulai berjalan meninggalkan sekolah. Aku sudah siap dengan headphone di kepala dan mulai memainkan lagu-lagu Paramore yang keren banget. Sambil membayangkan diriku berada di kerumunan konser Paramore dengan suara Hayley William yang memang top markotop gak kalah dengan makanannya Bondan Winarno, aku terlarut dalam duniaku sendiri. Sampai seseorang di sebelahku mencolek-colek lenganku. Kukira awalnya ada bencong nyasar di bis kami, tapi kemudian aku sadar itu adalah Roy dengan wajah jahilnya.

“Aku punya rencana bagus buat nyelakain Lindsay kodok itu.” Roy terlihat sumringah dengan ide yang kelihatannya serem. Aku sampai merinding dibuatnya. Bagaimana aku bisa punya teman gila seperti dia? “Ntar pas di penginapan, gue bakal mutusin listrik trus ngendap ke kamarnya dan bunuh dia, trus kalau misal itu gak berhasil, ntar ke Nusa Dua pas mau ke pantai penyu, kita dorong dia ke laut biar sekalian tenggelam dan..” Roy membuat gerakan tangan yang sedang membawa pisau dan menggorok lehernya.

Aku hanya bisa memandanginya heran sekaligus jijik. “Ih, kamu masih aja berambisi buat ngabisin dia.” Kataku berusaha mengehentikan niat jahatnya. Sebagai teman sudah seharusnya aku menegakkan kebenaran bukan? “Kamu tahu sendiri akibatnya ntar.”

“Masa bodoh. “ Katanya cepat. “Pacarku Dakota tersayang dibilang yang gak-gak tahu sama dia.”

“Kayak kamu cinta aja sama pacarmu.” Kataku sangsi. “Aku gak salah kan pas lihat kamu jalan ama cewek lain di sekitar alun-alun beberapa bulan lalu?”

“Awas kamu kalo comber.” Roy memperingatiku dengan mengayunkan tinjunya di udara dan tak ketinggalan dengan mata melototnya. “Aku bosen.”

“Ya putusin aja kale.” Tandasku.

Roy menggeleng kuat. “Gak bisa.” Katanya. “Aku pengen dia yang mutusin.”

Hah? Pernyataan bodoh. Kalau tidak suka dan bahagia dengan suatu hubungan kenapa harus dipertahankan? Orang-orang memang sulit berkomitmen. “Ya udah terserah kamu. Pokoknya aku gak ikut campur.” Pungkasku sebelum melanjutkan mendengarkan suara Hayley William yang badass.

***

“Akhirnya sampai juga.” Kataku lega setelah tiba di kamar penginapan. Sekolah kami menyewa sebuah penginapan alih-alih hotel. Alasannya, sih, untuk menghemat uang, tapi sebenarnya kami semua, para murid, sudah mengetahui kalau diam-diam para guru mengambil keuntungan sendiri denga wisata ke Bali ini. Cih, sekolah tidak bermutu sama sekali.

Hujan turun setibanya kami di penginapan pukul sebelas malam. Sesuai ramalan pagi tadi kalau Bali akan hujan di malam hari. Aku mengamati ruang yang aku tempati bersama Roy. Di sebelah pintu kamar mandi terdapat sebuah kabel besar dengan diameter sekitar tiga senti yang putus. Ujung-ujung kabel tersebut mekar. Kamar yang kami tempati juga tidak bagus-bagus amat. Dua kasur tua dan satu lemari kecil berdiri berjejer. Televisi bahkan tidak ada. Cat putih yang melapisi dinding kamar juga sudah mengelupas di sana-sini. Jelek sekali, ejekku dalam hati.

“Ren, aku mandi duluan, ya.” Sahut Roy sebelum menutup pintu.

“Hujan begini, Roy?” Tanyaku setengah berteriak menghampiri depan pintu kamar mandi  karena lantas kudengar gemericik air di dalam. “Gak dingin?”

Tak ada jawaban. Kira-kira ada air panasnya tidak, ya?

Aku sudah hendak berjalan ke arah tempat tidur ketika menyadari genangan air di sekitar kamar mandi. Ya ampun, penginapan ini jeleknya minta ampun dan harus direnovasi. Atap bocor begini, kok, dibiarin. Sekolah juga bodoh banget tidak bisa mencari penginapan yang lebih layak. Aku hanya bisa mendecakkan lidahku kesal sembari berjalan ke tempat tidur bersiap-siap menghampiri bunga tidur.

Entah berapa lama aku terlelap dalam tidurku ketika sebuah teriakan terdengar tak begitu jauh dari tempatku berada. Apakah Roy sudah menjalankan misinya? Tapi tunggu. Itu suara cowok. Suara Roy.

Dengan segera aku membuka mataku dan meloncat dari tempat tidurku. Seketika itu juga aku menyadari apa yang terjadi.

Roy sedang tersetrum!

Rupanya dia terpelet sehabis keluar dari kamar mandi. Berhubung penginapan tidak menyiapkan keset kamar mandi—yang membuatku makin miris dengan keadaan ini—Roy lantas terpeleset karena adanya genangan air akibat bocornya atap. Kemudian, karena tidak adanya pegangan apapun yang bisa ditemukan Roy di sekitarnya, terpaksa Roy berpegangan pada kabel yang terletak di samping pintu kamar mandi. Celakanya kabel itu kan putus dan ujung-ujung kabelnya mekar. Rupanya kabel itu masih berfungsi dengan sangat baik karena Roy langsung tersetrum.

Tubuhku sendiri seakan terpaku di tempat memandangi Roy yang tersetrum. Sulit rasanya beranjak dari tempatku berdiri dan berteriak atau berlari keluar meminta bantuan. Syok yang menderaku seakan membuat tubuhkuku lumpuh dan tak berdaya memandangi tubuh Roy yang perlahan-lahan terkulai lemas dan...tidak mungkin.

Setelah sadar dari rasa syok, aku berjalan perlahan menghampiri Roy. Kuletakkan tanganku di dadanya dan aku tidak menemukan degup jantung di sana.

Roy meninggal.

Roy sudah meninggal sebelum misinya membunuh Lindsay terlaksana.

You May Also Like

0 comments