DI KALA SENJA

by - November 05, 2015

"Hai." Sapanya ceria. 

Aku memandangnya kagum sambil tersenyum. "Hai." balasku dengan nada yang tak kalah ceria. "Lama tak berjumpa." 

Entah apa ada yang salah dengan suaraku tapi cowok yang sedang berdiri di hadapanku tiba-tiba tertawa--betapa aku menyukai tawanya yang begitu renyah sampai kucoba meresapinya perlahan--lalu aku menelengkan kepalaku sebagai ganti dari, "Apa?" untuk bertanya mengapa dia tertawa.

Dia mengangkat bahu sambil menaikkan salah satu alisnya. "Amanda," katanya setelah berusaha berhenti tertawa. Salah satu tangannya memegang tas jinjing, sedangkan tangan lainnya menekan perutnya seolah dengan begitu bisa membuatnya berhenti tertawa, dia melanjutkan, "Berhentilah bersikap formal. Kita bukan orang asing." Tak lupa juga dia mengacak-acak rambutku. 

Aku menunduk malu. Pandanganku langsung jatuh ke sandal T baruku. "Aku hanya merasa gugup." Keheningan kemudian mendadak menyergapi kami. Kurasa dia tertegun mengetahui aku gugup. Dia tahu pasti aku tak pernah seperti ini, kecuali ketika aku bertemu orang baru. Mungkinkah dia sempat berpikir kalau dia bagaikan orang asing bagiku?  Aduh, rasanya semakin tidak nyaman saja. "Setelah enam bulan pergi, rasanya aneh berbicara denganmu lagi." Aku semakin menenggelamkan kepalaku dan mengalihkan pandanganku ke dress musim panas berwarna oranyeku. Rasanya aku ingin menghilang saja ditelan dewa kegelapan. Dengan susah payah aku menelan ludahku sebelum melanjutkan, "Seolah kepergian itu tidak pernah terjadi. Apa kamu tidak merasakannya juga?"

"Maaf." Aku mendapati genggamannya pada tas jinjingnya semakin erat.  Kuberanikan diriku untuk menengadah perlahan dan menatap wajahnya dan aku menemukannya sedang memandangiku lekat-lekat. 

"Tentu." Jawabnya setelah beberapa saat keheningan merayapi kami. "Tentu aku merasakannya juga. Tapi, kalau kita sama-sama gugup, apa hubungan kita akan tetap sama?" Aku masih memandanginya karena sulit bagiku untuk membuang pandanganku dari laut yang menengangkan di kedua bola matanya. "Jadi, aku harus melawan perasaan itu. Aku tak mau..." 

Untuk beberapa saat kata-katanya hanya melayang-layang di udara, membuatku bertanya-tanya apa yang ingin Dimitry katakan sebenarnya. Apakah perasaannya padaku telah hilang?

"Aku tak mau ada yang berubah di antara kita." Akhirnya cowok di hadapanku melanjutkan kata-katanya. 

Kemudian dengan nada ceria dia menambahkan, "Aku kembali!" sembari tersenyum. 

Aku begitu senang sampai tak tahu harus berkata apa lagi. Terlalu banyak kata-kata yang berlarian di otakku. Mereka meminta untuk diucapkan semua. Jadi, alih-alih berbicara yang aneh, aku hanya mengatakan, "Terima kasih." 

"Kapan saja." Jawabnya ringan sembari tersenyum lebar. Lalu dia melakukan sesuatu di luar dugaanku. Kukira dia akan segera berjalan pulang ke rumah, tapi dia malah mengulurkan tangannya padaku. "Temani aku jalan-jalan sebentar, Amanda."

Dan aku hanya mengangguk senang, tersenyum, dan menyambut uluran tangannya  sambil memandangi bulatan oranye di ufuk barat bergerak turun perlahan-lahan. 

****

You May Also Like

0 comments