Skip to main content

Posts

KESALAHAN

Baka . Tentu saja itu adalah sebuah kesalahan. Kau mendengar ada penyihir yang bisa mengabulkan semua permintaanmu dari kabar burung yang terbawa angin dari hutan? Aku nyaris tertawa terpingkal-pingkal kau dengan mudahnya percaya hal magis semacam itu. Tak ada yang namanya penyihir. Kuberitahu kau sekali lagi: tak ada yang namanya penyihir.  Mengapa kau menganggapnya penyihir hanya karena dia bisa mengabulkan semua permintaanmu?  Mengapa kau bisa berpikir dia adalah penyihir hanya karena dia memberimu bubuk putih yang mirip tepung terigu? Mengapa kau bisa berpikir dia adalah penyihir hanya karena dia bisa menyulapmu menjadi cantik yang tanpa kau sadari kalau kau sendiri sudah cantik? Baka da na . Jangan terlalu jauh berjalan dari rumah. Kau tahu itu berbahaya. Kau bisa tersesat. Cepat kembali sebelum gelap. Seseorang sedang menunggumu dengan cokelat panas yang sudah tertata dengan rapi di meja lengkap dengan kudapan biskuitnya. Dia sedang duduk dengan jari-jari tergenggam kuat...

SEMINGGU

Seminggu. Seminggu berarti Minggu telah meninggalkan Senin dengan langkah cepat dan sudah waktuku kembali ke Senin lagi.  Dan perasaan ini--semacam ritual minum teh di sore hari yang selalu ditunggu-tunggu namun ketika sudah menikmatinya, waktu beranjak sangat cepat--selalu merayapi kalau aku sudah berdiam diri terlalu lama bersama mereka. Seandainya aku hanya menetap barang sehari atau dua hari, perasaan ini tidak akan pernah muncul. Selalu. Selalu saja suara gemetar yang ditutup-tutupi mengikuti langkahku di setiap jalan. Kita sama-sama mengucapkan salam perpisahan, sama-sama mendoakan yang terbaik selama kita saling menjauh, dan sama-sama mendoakan dalam bisikan doa agar kita selalu bisa bertemu  lagi dalam keadaan sehat.

NO ONE BLAMES THE WAVES

Terkadang mungkin akan menyenangkan menjadi ombak. Kau ditakuti, kau disayangi. Ketika kau meliuk-meliuk indah, kau disayangi. Kau menyenangkan para peselancar. Ketika k au marah, kau ganas. Kau ditakuti. Kau dapat menghantam bebatuan karang, pantai, apa saja. Tak ada yang menyalahkanmu. Mereka akan menyalahkan cuaca, tentu saja.

WILL I FALL TOO?

Aku dulunya berpikir kalau kami akan berjuang dan bertahan bersama sampai aku melihat satu per satu teman-teman seperjuanganku tumbang. Dan aku mulai berpikir...akankah aku berakhir seperti mereka?

(UN) HAPPY

Ini seharusnya tidak terjadi, kan? Semuanya mengalir terlalu cepat bagaikan air yang menggerus tanah di saat hujan menyapu permukaan terjal. Seperti itulah kebahagian tersapu oleh sesuatu yang paling ingin kau enyahkan dari ingatanmu sepanjang masa.  Di saat aku mulai  membangun kembali rumah dari puing-puing angin topan yang membuatku tak sadarkan  diri hingga dua belas bulan, di saat aku mulai menata kecerian, tawa, dan kesedihan pada tempatnya masing-masing, di saat aku mulai merencanakan apa yang aku lakukan mendatang dengan segala yang baru, aku menemukan bahwa dia menyeruak kembali. Dari kegelapan terdalam sosoknya terlihat tidak memperdulikanku. Tetapi aku yang memperdulikannya. Atau lebih tepatnya bertanya-tanya, "Mengapa harus kembali di puncak kebahagianku?"  Kemudian aku disadarkan bahwa roda manusia selalu berputar. Mungkin aku pula yang kelewat bahagia tanpa mengantisipasi sosoknya yang kapan saja bisa muncul.  Entah mengapa sejak dia menyumbat peng...

AKU MENDENGARKAN MUSIK SAAT....

 1. Saat Aku Menginginkannya Karena aku bukanlah tipe anak yang mendengarkan musik setiap saat. Aku jarang mendengarkan musik saat sedang sedih karena itu tidak membantu sama sekali, yang ada malah bisa memperburuk suasana hati. Tapi ada kalanya aku mendengarkan musik saat sedih. Itu terjadi kalau aku sedang sangat melankolis. Tapi di menit selanjutnya aku bisa saja berhenti mendengarkan musik dan berkata, "Sudah cukup bersedihnya" dan bangun untuk bersenang kembali.   2. Saat Suasana Hatiku Sedang Berada di Tengah-Tengah

AOZORA NO FAN

Jujur saja, kalau mereka menganggapku sebagai penggemar fanatiknya band Aozora, jelas mereka salah besar. Aku tidak merasa kalau aku adalah penggemar fanatiknya. Aku tidak menganggap mematai-matai Ame sang pianis dari tong sampah depan rumahnya sebagai hal yang keterlaluan. Menunggu kedatangan mereka di bandara dari dua hari sebelumnya juga tidak bisa dianggap berlebihan, hingga menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalanku untuk selalu dekat dengan Aozora. Itu semua adalah hal yang biasa buatku.  Tapi tidak ada yang memercayai kata-kataku. Daripada aku berteriak tidak jelas membela pemikiranku dan menghabiskan energiku untuk memberikan penjelasan kepada mereka, aku akan membungkam mulut mereka dengan caraku sendiri saja. Akan kutunjukkan kalau cintaku pada Aozora itu murni dan aku tidak suka dengan istilah penggemar fanatik. Pokoknya aku bukan penggemar fanatiknya. Aku selalu merasa kalau aku dilahirkan untuk selalu menjaga Aozora. Sejak pertama kali aku menemukan Aoz...